
Surabaya sebagai kota Industri merupakan hasil bentukan dari kolonialis Belanda. Industri turut mengubah corak perekonomian Arek Surabaya di abad ke 19. Konstruksi ini mengakibatkan warga Surabaya terpinggirkan secara struktural (pekerjaan). Butuh waktu yang cukup lama untuk Arek Surabaya bangkit dan mengikuti laju Industrialisasi di era itu.
Pada mulanya Surabaya merupakan pemukiman dengan corak ekonomi agraris sejak dikuasai Kerajaan Mataram (Lombard, 2000: 57). Dominasi masyarakatnya berprofesi sebagai petani dan memiliki kawasan sawah juga ladang yang luas. Meskipun demikian Surabaya juga sebagai pusat niaga (Ampel Denta) namun masih kalah ramai dengan pelabuhan Gresik yang saat itu VOC telah berdagang rempah-rempah di Gresik.
Setelah bubarnya VOC (1799) sebagai perusahaan dagang besar di Asia Tenggara, Indonesia diambil alih oleh pemerintah kolonial Belanda. Dari perpindahan kekuasan inilah, Gresik tidak lagi sebagai jalur perdagangan internasional melainkan Surabaya dijadikan kota pelabuhan dagang selanjutnya (Basundoro, 2001: 153). Di masa ini, Surabaya mulai mengalami transisi dari agraris menuju industrialisasi pada abad awal 19 (pra industri). Hal ini dapat dilihat dari kemunculan industri berskala besar, yakni Pabrik Senjata dan peralatan senjata. Di masa ini Surabaya mulai muncul industri industri baru. lantas sejak kapan kota Surabaya dijuluki sebagai kota Industri? Sejak cultuurstelsel tahun 1830.
Cultuurstelsel merupakan sistem kultur budidaya tanaman yang diatur oleh pemerintah kolonial Belanda dengan maksud mengikuti pasar perdagangan Internasional. Pada masa cultuurstelsel atau biasa disebut tanam paksa ini menjadi momen dimana pemerintah kolonial gencar gencarnya membentuk Surabaya sebagai Kota Industri. Dari kebijakan tersebut wilayah Surabaya Selatan hingga Sidoarjo menjadi sentra perkebunan tebu, bahkan wilayah karesidenan Surabaya disebut sebagai pemroduksi gula terbesar di Jawa. Berdirinya pabrik pabrik gula di berbagai tempat menciptakan kesempatan kerja yang baru dan beragam. Di Masa ini pula ditandai banyaknya pengusaha-pengusaha baru dari kalangan orang Eropa dan Timur Asing, yakni orang orang ras Cina dan orang orang ras Arab. Perusahaan yang mereka pegang adalah usaha transportasi, angkutan komoditi, dan lainnya.
Penguasaan perusahaan dari orang Asing menjadi awal alih profesi Bumiputera atau Arek Surabaya. Mayoritas mereka berprofesi sebagai kuli atau buruh serabutan. Sebagian lain, masih bertahan di daerah daerah pinggiran dengan profesi petani dan nelayan. Pun, dengan kondisi pemukiman, mereka bertempat di wilayah perkampungan. Peminggiran sektoral ini menjadi simbol kemiskinan yang disematkan secara bias kepada penduduk lokal oleh pendatang Eropa. Karena adanya pandangan orang Eropa yang melihat ‘status sosial’ seseorang diukur dari tempat tinggalnya (Basundoro, 2010: 135).
Kondisi peminggiran ini, membuat Arek Surabaya harus berjuang hingga setengah abad untuk menyesuaikan laju industrialisasi di kota Surabaya. Pada abad 19 di kampung-kampung mereka tinggal bermunculan industri rumahan berupa kerajinan tangan yang dikelola oleh masyarakat lokal. Produk-produk yang dibuat berupa barang jadi dan setengah jadi untuk menunjang instrumen kapal, cikar, mebel dan rumah. Pada masa itu, kampung-kampung di kota Surabaya diidentikkan dengan kampung pengrajin, Seperti kampung Pecantikan sebagai kampung reparasi dan pengrajin jam tangan, kampung Pesapen sebagai kampung mebel, kampung Pabean sebagai pengrajin kuningan, dan kampung Maspati sebagai kampung pengrajin gading, tanduk. Industri-industri kerajinan yang berkembang di Surabaya melahirkan tenaga terampil atau biasa disebut tukang (Samidi, 2017: 161). Iklim industri di pertengahan abad 19 menunjukkan bahwa basis perekonomian Arek Surabaya atau Bumiputera berangsur membaik.
Kota Surabaya yang kita jumpai saat ini adalah Kota industri terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Sebagai kota Industri yang telah ada sejak era penjajahan merupakan realitas historis hingga saat ini. Transformasi kota Surabaya dari agraris ke industri memang telah direkayasa sedemikian rupa oleh para kolonialis Belanda. Akibatnya, corak pekerjaan di Kota Surabaya sangat heterogen.
Singkatnya, transformasi pola perekonomian di kota Surabaya adalah sesuatu yang sifatnya artifisial. Artinya, kehadiran gelombang industrialisasi di kota ini disebabkan oleh kondisi historis dan kebijakan kolonialisme. Hal-hal tersebut turut mengubah lanskap perekonomian yang dahulunya agraris menjadi industri.






0 Comments