
Arek Institute memposisikan dirinya sebagai alpha di panggung utama Patjarmerah Surabaya. Mereka mengeksplor puisi “11 Tubuh Dalam Kamar Surabaya” yang terdapat dalam kompilasi puisi “Tubuh Mati Menyantap Dirinya Sendiri”melalui gerak statis dan olah tubuh yang dinamis. Hanya dengan sarung, suasana dihukum untuk senyap. Secara ketarturan gerak, Adnan memihak usungan baru dari puisi 11 Tubuh Dalam Kamar Surabaya menjadi lakon yang semakin menjadi. Nyawa yang dipertanyakan terlihat sempurna.
Karya ini dilahirkan oleh seorang kepala suku Saung Teater. Sajak tersebut, sebagai suatu karya yang menggumpal, lantas diberi nyawa simbolik dari sajak berikut ini: “bus-bus kota, knalpot. …”. Sajak tersebut merujuk pada kondisi kehidupan urban tanpa membuang perspektif perubahan dan perkembangan zaman melalui sudut pandang surealisme. Adnan menghadirkan dimensi keriuhan kehidupan urban melalui sajak, dan ia juga merepresentasikannya pada gerak tubuhnya pada pagelaran ini.
Pembawaan karya ini, dalam bentuk seni pertunjukan, tidak mengendalikan tubuh bercakap dengan tubuh lainnya. Tubuhnya hadir secara tunggal. Ia memainkan alih wahana sajak ini sendirian. Lakon tersebut menggambarkan sosok tubuh yang memang begitu adanya di kehidupan perantauan. Sebagai diaspora, sosok Adnan Guntur mencoba untuk merekam sisi yang acapkali dialami kelompok perantau urban dalam bertahan hidup. Itu dapat ditunjukan pada penggalan sajak berikut: “ikan asin, sambal tomat, baskom yang tersisa setengah …”. Lalu, ia menghadirkan sosok tubuh yang berada di kondisi kebertahanan ala kadarnya dalam pertunjukan ini.
Sedangkan, Tubuh, yang berbaring bersama hujan tumbuh di dalam sajaknya, menanggapi bahwa kebenarannya ada yang kacau. Lalu, ia ingin menunjukan dimensi kekosongan dan sempit melalui uluran sajak sebagai berikut: “sebuah tangan melahirkan ibu dan ibu yang lain. …”. Itu juga memiliki makna pergerakan tubuh yang masih bayi, dan tubuh tersebut sedang merengek sekaligus bergerak ngawur.
Seketika gerak tubuh dalam pertunjukan tersebut melemparkan tubuh berada di ambang yang sangat jauh, dan itu sedang menikmati diamnya. Itu dapat diimplisitkan sebagai penggalan sajak berikut: “tembok tetangga, seng rombeng, tiang listrik”. Kehadiran tubuh itu juga sedang mencoba mengkritik lingkungan hidup sekitarnya. Di kehidupan perkotaan yang padat, banyak penduduk memiliki taraf pendidikan dan ekonomi yang jauh di bawha rerata. Kondisi-kondisi tersebut dalam penggalan sajak dan gerak tubuh Adnan menunjukan gerak kehidupan urban yang tidak selalu ihwal kemewahan.
Dimensi yang lainnya adalah pertanyaan pada tubuhnya sendiri. Adnan menunjukan gerakan tubuh tersebut dalam pagelarannya, dan itu sekaligus dapat merujuk pada penggalan sajak ini: “bagaimana bisa aku melihat kepalaku sendiri?” dengan bercermin. Ada tubuh yang berada di dekat kaca, tetapi tubuh tersebut berbicara tanpa kaca dan hanya menemukan pembersihannya. Setelah menunjukkan berbagai macam tubuh dalam tiap babaknya, gerak tubuh penampil menunjukan kebingungan dan kekalutan.
Gerakan tersebut memiliki makna pada penggalan puisi ini: “bagaimana bisa aku mendefinisikan aku sendiri …”. Lebih lanjut, dimensi kebingungan tersebut semakin mendalam dalam sajak ini: “kipas angin berputar 360 derajat …”. Dalam pertunjukannya, Adnan menunjukan penggalan sajak tersebut dengan gerak tubuh yang melihat ke berbagai sisi. Jika, dilihat kembali tubuh itu masih tetap berdiri dan tidak kemana-mana. Gerakan tersebut menunjukan sisi kebingungan akan kehidupan perkotaan dari sudut pandang baik sajak maupun penampil.
Sajak dan gerak tubuh Adnan selalu memiliki penghayatan pengalaman pada dimensi tubuh. Ia bergerak seakan melihat tubuh lainnya dalam suatu ruang imajiner. Ia bermain dengan tubuh yang sedang berada di dalam ataupun di luar. Dimensi-dimensi itu juga menunjukan individualistik pada masing-masing babak dari tiap geraknya. Tubuhnya juga dibatasi dengan dinding yang berlapis-lapis. Namun Itu juga memiliki dimensi kontestasi atas kebebasan. Sebab, tubuhnya seakan ingin menggapai posisi tertinggi untuk bergerak leluasa, tetapi itu tidak memiliki arah yang dapat terjelaskan.
Artinya, tubuhnya seakan sedang ingin meloloskan diri. Ia ingin membentuk realitas otonom berdasarkan pikiran subyek dan dunia melalui gagasan yang berbeda-beda dalam satu waktu. Itu juga menggambarkan dimensi dari filsafat Merleau-Ponty. Dimensi tersebut adalah pengalaman tubuh yang telah menubuh (embodied), meskipun gerak atau sajak, yang disemburkan Adnan, juga tidak berdiri sendiri dengan produk sosial yang telah dialami oleh pengalaman kepenulisan sang Pujangga. Tubuh dan dunia, melalui istilah “menenun kain yang kusut”, menggantikan kesadaran dari tubuh-tubuh yang lain sebagaimana daging dihadirkan oleh tubuh itu sendiri (Merleau-Ponty, 2008).
Puisi dan lakon pagelaran Adnan di Patjarmerah telah melumat daging yang menyatu dalam tubuh dengan dimensi kritik sosial yang baru. Ia seakan ingin menyatakan bahwa tubuhnya selalu bergulat dengan tubuhnya sendiri sepanjang waktu. Itu meununjukan suatu perkembangan kehidupan urban yang sangat cepat dan carut marut. Ia tak sempat untuk menunggu tubuh yang masih terbaring di ruang kosong nan sempit.







0 Comments