Masalah yang Darurat: Sungai Pegirian dan Penanganan Feses Masyarakat di Nyamplungan Era Kolonial

Alfian Widi Santoso | Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Airlangga | Jejaring Peneliti Arek Institute

Surabaya telah menghadapi masalah kesehatan yang berurusan dengan air sejak lama. Hal ini dibuktikan dengan petisi untuk ratu Belanda yang dimuat dalam Soerabajasch Handelsblad pada akhir abad 19, yang mana dalam petisi tersebut berisi soal pemenuhan air bersih untuk masyarakat. Petisi yang dibuat untuk kepentingan masyarakat Eropa tersebut dibuat dengan latar belakang masalah kolera yang kian menjadi di Surabaya, serta ketakutan akan kondisi air siap minum di Surabaya setelah John Snow menemukan keterkaitan antara tingkat higienis air minum yang buruk dengan penyebaran kolera (Achdian, 2023).

Petisi tersebut akhirnya dikabulkan beberapa tahun kemudian, yang mana selaras dengan ditetapkannya Surabaya sebagai kotapraja. Walaupun begitu, masalah soal higienitas masyarakat dan air tetap menjadi masalah hingga penghujung kekuasaan Belanda di Indonesia pada tahun 1942. Hal ini disebabkan oleh ketimpangan yang terjadi, jika saja orang Eropa mendapatkan air dengan mudah karena air langsung disalurkan ke rumah-rumah mereka, maka berbeda nasib dengan masyarakat bumiputera yang harus berjibaku mengantri karena setiap kampung hanya disediakan satu pompa air saja (Huda, 2016). 

Salah satu dampak dari kebijakan yang timpang ini dapat dilihat di sungai Pegirian, yang mana masalah higienitas di sana sangat disoroti dengan serius baik itu masalahnya ataupun solusinya oleh dua penulis kenamaan berdarah Belanda yaitu H.F Tillema dalam bukunya Kromoblanda yang berjilid-jilid tebalnya dan Von Faber dalam karya monumentalnya yang kedua yaitu Nieuw Soerabaia. Dalam tulisan ini setidaknya menyoroti kasus sungai Pegirian di kecamatan Nyamplungan yang menjadi sorotan pemerintah Surabaya, dan juga akan membahas kebijakan pemerintah Surabaya saat itu dalam menangani masalah ini.

Gambar 1. Tepian Sungai Pegirian di Kecamatan Nyamplungan. Source: Von Faber, 1933, Nieuw Soerabaia

Kasus Nyamplungan merupakan salah satu dari sekian kasus kesehatan di Surabaya, namun dapat dikata jika kasus Nyamplungan ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah gemeente Surabaya, dan hal ini dibuktikan dengan sorotan serius dari Von Faber dalam Nieuw Soerabaia. Dalam buku tersebut, pada bab Gezondheidszorg bagian Typhus Abdominalis menampilkan sebuah foto perbandingan soal bantaran sungai Pegirian di kecamatan Nyamplungan, yang mana foto tersebut menampakkan perbedaan di tangga sungainya, yang awalnya berundak menjadi landai.

Dalam keterangan Von Faber, tepian sungai Pegirian ini penuh dengan timbunan feses masyarakat, yang buang air besar ‘sembarangan’. Menurut Von Faber, feses yang dibuang sembarangan ini menimbulkan masalah yang tak main-main yaitu berkaitan dengan persebaran Tifus Abdominalis, yang mana penyakit ini disebabkan oleh persebaran virus Salmonella Typhi yang disebarkan melalui konsumsi makanan dan minuman oleh kontaminasi feses penderita. Maka dapat disimpulkan jika hal ini terjadi karena kemungkinan beberapa orang masih mengkonsumsi makanan atau minuman yang berasal dari sungai Pegirian, seperti: air minum, ataupun mengkonsumsi olahan hasil sungai, dan lain sebagainya.

Gambar 2. Tepian Sungai Pegirian di kecamatan Nyamplungan setelah direnovasi. Sumber: Von Faber, 1933, Nieuw Soerabaia

Masalah ini tidak hanya terjadi bantaran sungai Pegirian yang melewati kecamatan Nyamplungan saja, namun rata di sepanjang sungai Pegirian. Hal ini dikeluhkan oleh Katjoeng Moeda di Surat Kabar “Proletar” milik organ PKI Surabaya pada tanggal 25 September 1925. Dalam keluhannya tentang pemerintah Surabaya yang lelet dalam mengatasi kebersihan masyarakat, Katjoeng Moeda menuliskannya seperti ini:

 

“Kali di Girikan, moelai Gili Ketapang, kalau air tidak djalan, dan amat banjak orang-orang laki serta perempoean jang sama doedoek-doedoekan di sitoe. Boekan doedoek tjari angin … tapi doedoek mengeloearkan sosis-brood”

 

Sosis-brood yang dimaksud Katjoeng Moeda adalah feses. Kalimat yang dikutip di atas menunjukkan sebuah kelaziman perilaku buang air di sungai, yang mana bisa dikatakan kalau hal ini menjadi awal dari persebaran penyakit di antara masyarakat bumiputra.

Menurut Von Faber sekaligus pemerintah Surabaya saat itu bahwasanya masalah ini sudah sangat melekat di masyarakat–walaupun telah diedukasi sekian kali, yang mana masalah ini dibuktikan dengan feses yang mengendap dan menggunung, serta diperbarui terus-menerus. Bahkan saja, masalah feses ini membuat pemerintah harus turun langsung untuk menyelesaikannya. Hal tersebut tercermin dalam pemberitaan koran De Indische Courant terbitan 2 Desember 1927, yang mana menyebutkan, bahwa dinas kesehatan meninjau langsung tentang kasus pembuangan sampah di Wonokusumo dan juga akan pergi ke Nyamplungan, guna dijadikan bahan pembahasan tentang kesehatan dan higienitas masyarakat.

Sebulan setelahnya, di koran yang sama memberikan soal gambaran kondisi di Nyamplungan dan langkah yang akan digunakan untuk mengatasi masalah ini.  Dalam De Indische Courant, yang terbit pada 9 Januari 1928, dengan tajuk “Onhygiënisch Soerabaia” (Surabaya yang Tidak Higienis), memberi suatu kalimat pembuka untuk menggambarkan daerah Nyamplungan yang dapat dikata cukup menohok, “Nyamplungan yang najis…”. Begini kira-kira potongan berita tersebut:

“Dalam gumpalan-gumpalan (feses) itu, warga kampung Njamploengan dan Kertopaten yang padat penduduknya, buang air besar di pinggir sungai, tanpa tempat berteduh. Fesesnya,  tertinggal di sepanjang bantaran sungai, dibawa bergantian ke hulu dan ke hilir melalui pasang surut, sehingga bau busuk yang menjijikkan terus menerus mencemari lingkungan. Akan menjadi berkah bagi masyarakat jika pemerintah kota membangun 13 pemandian dan bangunan pribadi di sepanjang Pegirian. Salah satunya sudah dalam tahap pembangunan.” Ungkap si penulis.

Perbaikan daerah pinggiran sungai (bahasa Jawa: plengsengan/trap) ini setidaknya mengurangi kebiasaan masyarakat yang buang air besar di sungai, yang mana kebiasaan ini menurut Von Faber sangat susah dihilangkan. Upaya perbaikan ini sudah direncanakan sejak tahun 1928 oleh B.O.W (Burgerlijke Openbare Werken/Dinas Pekerjaan Umum) bersama dinas kesehatan Surabaya agar segera diperbaiki, demi kepentingan kesehatan umum.

Perbaikan yang dilakukan tidak hanya tentang perbaikan tepi sungai saja, namun juga ada pula perbaikan yang lain seperti memberikan kamar mandi umum (ponten) sebanyak 13 buah di beberapa titik di sungai Pegirian, sekaligus juga nantinya akan dibangun sejumlah fasilitas kebersihan di kampung-kampung agar masyarakat terlatih untuk hidup bersih dan higienis. Walaupun begitu, masalah ini tetap ada dan terus berlanjut, bahkan saja terdapat laporan mingguan di koran De Indische Courant, yang mana melaporkan kesehatan masyarakat dan penyakit-penyakit yang timbul di masyarakat (terutama penyakit yang berkaitan dengan higienitas). Dan menariknya, daerah Nyamplungan hingga tahun 1930 an masih menghadapi penyakit yang sama (tifus abdominalis, tifus A., dan difteri). Padahal lingkungan tersebut telah dibangun berbagai macam fasilitas kebersihan.

Masalah yang Sebenarnya!

Sebenarnya, masalah ini memang tidak bisa diselesaikan dengan cara yang spontan, sebagaimana yang direncanakan oleh pemerintah Gemeente Surabaya di awal tahun 30an. Antara masalah kesehatan dengan perencanaan yang dilakukan pemerintah Surabaya menuai kritikan yang bernada keras dari surat kabar “Proletar” di kolomnya yang bertajuk “Tjiamah Tjioeng”. Dalam surat kabar Proletar tanggal 25 Januari 1925, Si Sawoet menulis dalam kolom tersebut dengan judul yang sangat bernas, “Goeminta Maoenja Sehat, Tetapi Penjakit biar Dekat”, dan isinya pun bercampur antara kritikan sekaligus satir kepada pemerintah Surabaya. Si Sawoet menulis,

… Tjoba sekali-kali berdjalan via Gembong gaspabrik dan djalan Njamploengan terus ke Pegirikan, nanti hidoengnja kalo tidak diopeni dengan bau restan (sisa) … manusia. Tra salah kalo orang jang soedah berasa keras, laloe mendoprok (duduk) melihatkan pantatnja kehadapan publiek boeang … restan, sebab maoe boeang air jang tidak kelihatan orang, orang mesti betal (bayar) dengan betoel sama … goeminta. Gemeentelijke Reinigingsdienst, lihatlah ada baoe boesoekdienst.”

Menurut penuturan si Sawoet di atas, pemerintah Gemeente abai dengan kondisi kesehatan masyarakat kelas bawah di Surabaya. Bahkan saja, menurut si Sawoet, pemerintah seolah-olah ingin bertindak membenahi Surabaya agar lebih bersih, tapi warga Surabaya wabil khusus bumiputra, tidak pernah mendapat akses yang layak dan gratis. Menurut si Sawoet, mereka (pemerintah) tidak pernah melihat kondisi riil dan hanya berandai-andai teori di parlemen, bahkan si Sawoet ucap seperti ini:

“Theorie di atas kertas memang selamanja ada netjis, tetapi boekti praktijknja ada … hambleset djaoeh sekali…”

Hal ini selaras dengan penjelasan Jean Gelman Taylor yang panjang lebar dalam esainya yang berjudul “Bathing and Hygiene: Histories from the KITLV Images Archive” yang dimuat dalam buku bunga rampai berjudul “Cleanliness and Culture: Indonesian Histories”. Dalam artikel tersebut setidaknya Taylor menjelaskan soal permasalahan yang begitu kompleks tentang alasan masyarakat bumiputera melakukan kerja domestik dan urusan privat di ruang-ruang publik seperti di sungai, yang sangat berkaitan dengan masalah ekonomi masyarakat, terutama kaum bumiputra.

Taylor secara logis memaparkan bahwasanya hal tersebut terjadi karena konflik sosial ekonomi yang melatari semua itu, dimana masyarakat Bumiputera sebagai masyarakat kelas tiga tidak memiliki akses kebersihan yang memadai karena:

“yang Pertama, rumah mereka yang terbuat dari anyaman bambu itu kemungkinan besarnya tidak memiliki kamar mandi, jikalau ada, mereka harus mengangkut air dari sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, cuci, kakus (MCK); Kedua, masyarakat Bumiputera hanya disediakan satu pompa air untuk satu kampung. Hal ini jelas sangat kontras dengan masyarakat Eropa yang dapat mengakses air bersih secara mudah. Bahkan pemerintah melalui kebijakan waterleiding, dapat menyalurkan air ke tiap rumah orang Eropa melalui pipa-pipa yang telah tersedia.”

Dua alasan ini pada akhirnya membuat masyarakat bumiputera harus memilih pilihan satu-satunya yaitu melakukan kerja domestik dan hal-hal privat di sungai, sebagaimana yang telah dilakukan masyarakat terdahulu, walaupun motifnya pun sangat berbeda.

Gambar 3. Aktivitas masyarakat sekitar sungai (Cantian) , terdapat anak-anak yang sedang mandi, ibu-ibu yang mencuci, hingga ada yang menggunakan tepian sungai untuk menjemur makanan. Sumber: Van Ingen

Dalam konteks Surabaya, argumen dari Taylor terbukti benar adanya, yang mana masyarakat bumiputra harus berjibaku dalam menghadapi situasi krisis air bersih di perkampungan, bahkan saja pihak pemerintah yang seharusnya melayani masyarakat pun dinilai nihil. Katjoeng Moeda menyatakan hal tersebut dalam kritiknya terhadap Gemeente Surabaya kala itu yang mana ia menganggap bahwa pihak pemerintah merupakan pemeras dan mata duitan.

“Kalau bikin, ja tidak loepa goeminta minta een (satu) cent satoe orang jang mandi dan een cent orang jang pigi belakang. Sekarang lantaran politiek goeminta jang mata oeang alias mata doeiten itoe, publiek jang djadi korban. Jaitoe kalau djalan di sitoe (sekitar sungai Pegirian) misti menahan napas sampai setengah mampoes”

Sekali lagi, kasus semacam ini tidak bisa diselesaikan dengan spontan sebagaimana yang disebutkan Von Faber ataupun pemerintah Surabaya saat itu, tapi harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur dan ekonomi yang memadai untuk masyarakat bumiputera. Seanda dengan kritik dr. Soetomo yang menganggap bahwasanya pemerintah harus secepatnya untuk memperhatikan nasib kaum bumiputra terutama mereka yang hidup di kolong jembatan dan tepi sungai.

Menurut Purnawan Basundoro dalam bukunya “Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900-1960an” menyebutkan bahwa masyarakat kelas bawah Surabaya (terutama pendatang) yang tak punya banyak modal untuk membangun sebuah rumah, dan pada akhirnya mereka menggunakan tepian sungai dan kolong jembatan sebagai tempat tinggal ataupun membangun rumah di sana. 

Terlebih lagi, masalah ini terus berlanjut hingga hari ini sebagaimana pengalaman Roanne van Voorst yang ditulis dalam bukunya dengan judul “Tempat Terbaik di Dunia: Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh di Jakarta”. Menurut Voorst, kasus membangun rumah di bantaran sungai sering terjadi di kalangan pendatang Jakarta yang tidak memiliki modal cukup, sehingga tanah kosong seperti bantaran sungai menjadi solusi, mengingat regulasi pemerintah soal hal ini masih sangat lemah.

Studi-studi tersebut menunjukan bahwa permasalahan kehidupan bantaran sungai tak pernah usai dari periode kolonial hingga masa sekarang. Sejarawan hingga Antropolog yang membincang kehidupan bantaran sungai tak akan pernah kehabisan topik permasalahan. Itu sebabnya, kehidupan tersebut menjadi suatu permasalahan pemerintah kota maupu akademisi setelahnya. 

Singkat kata, pola kehidupan masyarakat kampung yang tak bisa memisahkan ruang privat dengan domestik telah terbentuk semenjak periode kolonialisme. Di periode sekarang, pola tersebut hanya mengalami pergeseran aktivitas dan perilaku saja. Namun keterbatasan pemisahan ruang privat dan publik tersebut masih belum bisa dipisahkan.

Daftar Pustaka

  • De Indische Courant. Gezondheid-Inspectie. 2 Desember 1927
  • De Indische Courant. Onhygiënisch Soerabaia. 9 Januari 1928
  • De Indische Courant. Besmettelijke Ziekten. 13 Februari 1931
  • Si Sawoet. Tjiamah Tjioeng!! Goeminta Maoenja Sehat, tetapi Penjakit biar Dekat. Proletar. 10 Mei 1925
  • Katjoeng Moeda. Tjiaaamah Tjiiiioeng!!!, Goeminta Soerabaja. Proletar. 20 September 1925
  • Andi Achdian. 2023. Ras, Kelas, Bangsa: Politik Pergerakan Antikolonial di Surabaya Abad ke-20. Tangerang: Marjin Kiri
  • G.H. von Faber. 1933. Nieuw Soerabaia: De Geschiedenis van de Indië’s Voornaamste Koopstad in de Eerste Kwarteeuw, Sedert Hare Instelling 1906-1931. Soerabaja: N.V Boekhandel en Drukkerij H. Van Ingen
  • H.F. Tillema. 1916. Kromoblanda: Over ‘t vraagstuk van ,,Het Wonen” in Kromo’s groote land. Den Haag: N.V. Electrisch Drukkerij en Uitgave Maatschappij ,,de Atlas”
  • Nur Huda. 2016. PERAN GOUVERNEMENT WATERLEIDING TERHADAP PENYEDIAAN AIR BERSIH DI SURABAYA TAHUN 1900-1923. Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga
  • Purnawan Basundoro. 2013. Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900-1960an. Tangerang: Marjin Kiri
  • Roanne van Voorst. 2022. Tempat Terbaik di Dunia: Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh di Jakarta. Tangerang: Marjin Kiri

 

Artikel Lainnya

Kampung Kuno Pagesangan

Kampung Kuno Pagesangan

Pagesangan merupakan kampung arkais. Kehadirannya telah terekam semenjak masa Majapahit. Itu dibuktikan melalui prasasti Canggu...

Arek Surabaya Merebut Ruang Kota

Arek Surabaya Merebut Ruang Kota

M. Khoirurrizqi Awalalul M | Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Jember | Jurnalis di Lembaga Pers Mahasiswa Tegal Boto |...

Dari Ketahanan Menjadi Komoditas

Dari Ketahanan Menjadi Komoditas

Alfian Widi Santoso seorang mahasiswa Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga. Ia juga aktif mengelola buletin sejarah "De...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *